• Alamat : Jalan Raya Panglegur KM.4 Pamekasan 69371 - Jawa Timur
  • Telp : +62 324 327248
  • Fax : +62 324 322551
  • Email : info@iainmadura.ac.id

Kurikulum Pesantren Saat Ini??

“Kurikulum pesantren pada masa lalu yang sederhana mampu melahirkan tokoh-tokoh dan kiai-kiai besar, sementara kurikulum pesantren masa kini justru tidak melahirkan kiai-kiai besar.” (Mujamil Qomar)

Ide di atas merupakan renungan penulis ketika sedang bertafakkur tentang pendidikan pesantren, terutama dari sisi kurikulumnya. Kurikulum pesantren -yang pada abad 19-20 an mampu melahirkan peserta didik (dalam hal ini santri) serta leader-leader (kiai-kiai) besar, saat ini ‘sudah tidak lagi bisa’ menghasilkan pesantren’s human resources yang menjadi uswah dan bahkan panutan umat.

Idealnya, kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan.

Lulusan (alumni) pesantren –dengan kurikulumnya yang –konon katanya- sudah disesuaikan dengan kurikulum modern-, akhir-akhir ini hanya mampu melahirkan konseptor-konseptor teoritis, tapi sepi dari nilai-nilai dasar (core values) yang sudah diuswahkan oleh leader-leader pesantren terdahulu.

Pemimpin-pemimpin (kiai-kiai terdahulu) menggunakan kurikulum-kurikulum yang notabene lillāhi taāla (seadanya) mampu menggetarkan seantero dunia dengan realitas-realitas alumni yang mumpuni, bahkan human resources ‘jebolan’ pesantren terdahulu mampu menghasilkan santri yang brilian, cerdas, kompeten dan religius.

Penulis tidak bermaksud untuk meninabobokan para leadership pesantren yang ada abad ini. Penulis yakin dengan haqqul yakin bahwa masih banyak para leader (meminjam istilah orang jawa: satrio piningit) saat ini yang berkeinginan agar pesantren yang mereka pimpin dan kelola senantiasa mampu untuk bersaing di dunia global (go public). Akan tetapi, tradisi lama (al muhāfadah alal qadīmis shālih) yang baik tentang pengelolaan –terutama kurikulum- pesantren yang telah dilakukan dan dipraktekkan oleh para punggawa (kiai-kiai) terdahulu mereka, dijadikan rujukan awal untuk menatap kurikulum pesantren masa depan.

Beberapa ciri kurikulum yang seharusnya diupayakan dan diterapkan di pesantren-pesantren kholafi saat ini adalah:

Pertama, mata pelajaran yang ada harus mampu menanamkan nilai-nilai keilmuan ulihiyah dengan dilandasi keimanan dan keislaman yang kuat. Tentunya dengan mengedepankan aspek rasionalitas dan spritualitas religius;

kedua, kemampuan para pengelola kurikulum pesantren dalam menyelaraskan kebutuhan riil dengan kebutuhan sprituil;

ketiga, kemampuan leader (kiai) dalam memberikan motivasi intrinsik (hablun minallāhi) ataupun ekstrinsik (hablun minannāsi) kepada human resources pesantren, untuk senantiasa mengolah khazanah keilmuan yang sudah mereka peroleh dari pesantren, sekaligus mengolah atau gerak batin (meminjam istilah pendekatan diri kepada Allah SWT. yang lama dilakukan oleh kiai dan santri Pondok Pesantren Sidogiri). Kemampuan itu juga bisa menggabungkan kurikulum baru yang tidak ‘merusak’ tatanan kurikulum yang ada, terutama dari sisi ke’sakralan’ kurikulum sebelumnya;

keempat, kurikulum pesantren harus mampu meningkatkan keimanan dan ketakwaan para santri kepada Allāh Subhānanū Wataālā serta berakhlak mulia, terutama ketika mereka sudah terjun dan bergabung dan bersentuhan langsung dengan masyarakat sekitar tempat tinggal para alumni pesantren berada.
Ciri keempat ini juga merupakan adicita serta amanat Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003, dengan mengedepankan pendidikan yang berbasis dan sesuai kebutuhan masyarakat (education based and needed society). Semoga.

• Kasubbag TU Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Madura periode 2019-sekarang, sekaligus pemerhati dan peneliti seputar Pendidikan Islam dan Pesantren. Semoga semuanya barokah.
  •