• Alamat : Jalan Raya Panglegur KM.4 Pamekasan 69371 - Jawa Timur
  • Telp/Fax : +62 324 322551
  • Email : info@iainmadura.ac.id
  • Facebook : IAIN Madura

KONFERENSI INTERNASIONAL IAIN MADURA MEMPERKOKOH BUDAYA BANGSA

<p>Pamekasan, 28/11/2020 - Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura sukses gelar konferensi internasional yang bertajuk 4th International Conference on Islamic Studies (ICONIS). Acara ini digelar melalui Zoom Meeting dan disiarkan melalui kanal YouTube IAIN Madura. Sekalipun duduk di tempat dan menatap layar berbeda, konferensi ini berlangsung meriah dengan terlebih dahulu dihantarkan dengan lagu-lagu Madura.</p>
<div style="text-align: justify;">Konferensi internasional yang dimoderatori oleh Masyithah Mirza ini diikuti lebih dari 400 orang peserta yang berasal dari latar belakang berbeda. Ada mahasiswa, pendidik, akademisi, peneliti, pemerhati budaya, serta masyarakat umum. Acara konferensi internasional ini terasa berbeda karena mengangkat tema lokal Madura &ldquo;Madurese Islamic Tradition&rdquo;. Pemilihan tema ini tidak bukan berarti mengangkat Madura yang kecil menjadi besar. Menurut Rektor IAIN Madura, sejatinya Madura sudah memiliki posisi yang besar. Secara etnis, Madura sebagai suku terbesar ketiga setelah Jawa dan Sunda. Demikian pula penutur bahasa Madura sebagai penurut bahasa terbesar keempat setelah Jawa, Sunda, dan Melayu.</div>
<div style="text-align: justify;">Secara etnis dan bahasa Madura akan mempengaruhi perkembangan budaya di Indonesia. Selain itu, pemilihan tema tentang tradisi islam di Madura juga tidak lepas dari penyebaran islam di Madura yang hampir sempurna. Hal ini membuat Madura identik dengan islam. Pulau Madura hanya sebatas daerah pinggiran yang menjadi proyek islami pulau Jawa. Namun, Madura menjadi daerah dengan sebaran agama islam yang merata. Dalam sambutannya, Rektor IAIN Madura juga mengutip perkataan HAMKA ketika mengunjungi pulau Madura pada tahun 1936. &ldquo;Pulaunya kecil, tapi semangat islam telah masuk ke sumsum mereka. Karena tanahnya miskin dan tandus, tetapi penduduknya kaya-raya dengan iman. Langgar tiap keluarga sebagai pertanda kuatnya kebersamaan orang-orang Madura,&rdquo; tutur Mohammad Kosim. Acara yang lebih dikenal dengan ICONIS 2020 ini menyajikan dua plenary session dan parallel session.</div>
<div style="text-align: justify;">Dalam plenary session, IAIN Madura menghadirkan tiga pembicara ahli tentang Madura, yaitu Prof. Robert Hefner, Prof. Ken Miichi, dan Yanwar Pribadi, MA., Ph.D. Prof. Robert Hefner yang berasal dari Boston University, USA telah menghabiskan beberapa tahun dalam hidupnya untuk hidup di ujung timur pulau Jawa untuk meneliti tentang Madura. Dalam acara ini, Prof. Robert Hefner lebih mengulas peran serta masyarakat Madura pada zaman dahulu yang merantau dan menetap di ujung Timur pulau Jawa dalam mensiarkan Islam. Menurut Robert Hefner, &ldquo;Masyarakat ujung timur memang sudah mengenal Islam sebelum datangnya perantau Madura, tetapi keislaman mereka semakin kuat ketika masyarakat Madura datang dan mendirikan berbagai pesantren dan rumah ibadah.&rdquo; Dalam paparannya, Prof. Ken Miichi yang berasal dari Waseda University lebih banyak menyinggung mengenai peta politik saat pemilihan presiden sampai pemilihan Bupati di Madura. &ldquo;4 daerah (kabupaten) di Madura merepresentasikan tipe ideal dalam pemilu di Indonesia,&rdquo; kata Prof. Ken Miichi. Pelaksanaan konferensi ini terlaksana dengan baik dan sukses.</div>
<div style="text-align: justify;">Menurut ketua pelaksana ICONIS 2020, Hafid Effendy, pelaksanaan ICONIS tahun ini terlaksana dengan sukses. Sesuai dengan jadwal yang sudah terencana. Selain itu, peserta yang ikut sangat antuasias karena mengungkap tentang adat-istiadat, pranata sosial, budaya, trradisi, dan bagaimana pola hidup orang Madura. Harapan ketua panitia, &ldquo;Semoga tetap pada Islam pesantren dan Madura karena IAIN Madura terletak di Pulau Madura yang penuh dengan tradisi-tradisi, budaya, serta nilai religius yang kuat. Selain itu, semoga kegiatan ICONIS selanjutnya tidak menghilangkan marwah IAIN Madura, yakni religius kompetitif dengan tetap melestarikan kearifan lokal Madura,&rdquo; tutup Hafid Effendy. (AN&amp;AP)</div>
  •