Jas Hijau (Jangan Sekali-kali Hilangkan Jasa Ulama)
- Diposting Oleh Achmad Firdausi
- Senin, 20 Oktober 2025
- Dilihat 591 Kali
Oleh: Dr. Imam Amrusi Jailani, M.Ag.
(Ketua Program Studi Doktor Ilmu Syariah Pascasarjana UIN Madura)
Jas Hijau merupakan ungkapan sarat makna yang dimunculkan sebagai balance terhadap ungkapan yang sudah viral dan masif sebelumnya, yakni Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Ungkapan tersebut disampaikan oleh Bung Karno agar bangsa ini tidak melupakan jasa-jasanya dalam mendirikan negara Republik Indonesia ini. Kata “merah” sengaja dipilih sebagai simbol keberanian yang menunjukkan bahwa kelompok yang membesarkan Bung Karno adalah bernuansa merah, dalam hal ini PNI dan saat ini menjadi warna kebanggaan PDIP.
Jargon Jas Merah sengaja didengungkan oleh kelompok mereka yang seolah-olah mereka tidak memandang jasa ulama - di zaman Orde Lama dipmotori oleh Masyumi dan NU - atau menganggap kecil peran ulama dalam berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.
Kalangan ulama tentunya harus merespon terhadap jargon tersebut, apalagi dimunculkan oleh seseorang yang pernah mengkonsepkan Nasakom untuk negara Republik Indonesia ini. Oleh karena itu untuk membendung animo masyarakat yang mengarah pada sikap apatis terhadap ulama dan agar jasa ulama tidak dihilangkan secara percuma, maka kalangan ulama dan santri memunculkan jargon Jas Hijau, jangan sekali-kali hilangkan jasa ulama. Warna hijau sengaja dipilih untuk mengisyaratkan kesejukan dan kedamaian, karena dalam pemaknaan warna hijau diidentikkan dengan kesejukan.
Jas hijau sangatlah pantas dan layak untuk selalu digaungkan, mengingat besarnya jasa para ulama dalam memerdekakan bangsa ini dan juga dalam mempertahankan kemerdekaan. Para ulama dengan basis pesantren menjadi pertahanan yang sangat ampuh bagi bangsa ini untuk melawan penjajah dan menghalau adanya upaya mereka untuk tetap bercokol di tanah air ini pasca kemerdekaan. Jasa ulama mungkin tidak akan terhitung besarnya bagi bangsa ini, bukan hanya dalam merebut kemerdekaan dan memperjuangkan serta mempertahankannya untuk menjadi negara yang berdaulat, bahkan para ulama sangat besar jasanya dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa ini. Para ulama dengan ikhlas dan ketulusan hati sudah mendedikasikan dirinya atau dalam ungkapan lain mewakafkan dirinya untuk selalu meluangkan waktunya dalam mencerdaskan bangsa, mendidik para santri dan para generasi muda agar menjadi harapan Bangsa yang handal.
Bukti nyata adanya kontribusi ulama dan jasanya yang sangat besar bagi bangsa ini adalah dengan tetap disiplin mengawal para generasi muda, mencetak para santri yang mampu menjawab tantangan zaman dengan berbasis di pesantren. Pesantren menjelma menjadi basis pertahanan yang amat kokoh untuk membendung dekadensi moral yang pada era digital ini sudah mewabah di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda. Maka keberadaan pesantren sangat urgen dalam mengawal terbentuknya generasi muda yang berakhlakul karimah.
Itu semua tidak akan terjadi jika tidak ada pengorbanan dari para ulama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa ini. Maka sudah sepantasnya bangsa dan rakyat Indonesia ini memberikan apresiasi yang tinggi terhadap para ulama yang sudah mengantarkan kehidupan bangsa dan rakyat Indonesia ini pada kehidupan yang damai dan sentosa. Semua rakyat Indonesia sudah maklum terhadap jasa ulama, karena ulama memang di garda terdepan dalam mengawal kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat yang didasarkan kepada akhlakul karimah.
Editor: Achmad Firdausi