Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 898-9700-500

Email

info@uinmadura.ac.id

M. Tabrani: Refleksi Kembali Penggagas Bahasa Indonesia di Bulan Bahasa

  • Diposting Oleh Achmad Firdausi
  • Senin, 20 Oktober 2025
  • Dilihat 330 Kali
Bagikan ke

Oleh: Dr. Moh. Hafid Effendy, M.Pd.

(Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Madura dan Ketua Yayasan Pakem Maddhu)

Bulan Oktober selalu terasa istimewa bagi bangsa Indonesia. Kita mengenalnya sebagai Bulan Bahasa, sebuah momentum untuk merayakan lahirnya bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia. Di balik sejarah Sumpah Pemuda 1928, kita sering mendengar nama-nama besar tokoh pergerakan nasional. Namun, ada satu nama yang kadang terlupakan dari sorotan publik, yaitu M. Tabrani, pahlawan nasional yang berasal dari kota Gerbang Salam yakni Kabupaten Pamekasan. Ia sosok yang berperan besar dalam memperjuangkan istilah “Bahasa Indonesia” sebagai bahasa persatuan.

Jika kita mengintip sejarah, pada awal abad ke-20 wacana tentang bahasa persatuan memang ramai diperbincangkan. Kala itu, sebagian pihak menyebut bahasa Melayu sebagai bahasa yang dipakai lintas daerah. Namun, M. Tabrani seorang wartawan, intelektual, sekaligus pejuang kemerdekaan, Ia muncul dengan gagasan brilian: menggunakan istilah “Bahasa Indonesia” sebagai simbol kebangsaan. Baginya, menyebut “Bahasa Melayu” tidak cukup kuat untuk mengikat rasa persatuan. Ia meyakini bahwa bangsa besar membutuhkan bahasa besar, bahasa yang tidak hanya lahir dari rumpun tertentu, melainkan menjadi identitas bersama.

Keberanian M. Tabrani ini sesungguhnya menunjukkan betapa pentingnya narasi dalam membangun identitas bangsa. Sebab, bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga lambang jati diri. Ketika pemuda-pemuda dari berbagai daerah mengikrarkan Sumpah Pemuda dengan kalimat “Kami menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”, itu bukan sekadar kesepakatan linguistik, melainkan juga langkah politik yang visioner.

Sayangnya, dalam catatan sejarah populer, nama M. Tabrani sering tenggelam dibanding tokoh lain. Padahal, perannya sebagai penggagas istilah “Bahasa Indonesia” jelas monumental. Oleh karena itu, peringatan Bulan Bahasa seharusnya tidak hanya sekadar diisi dengan lomba baca puisi, pidato, atau penulisan esai, tetapi juga menjadi ruang untuk menghidupkan kembali ingatan kolektif tentang tokoh-tokoh yang memberi fondasi pada bahasa kita.

Dalam konteks kekinian, gagasan M. Tabrani tetap relevan. Kita hidup di era global, di mana bahasa asing, terutama bahasa Inggris, mendominasi ruang akademik, teknologi, dan komunikasi digital. Namun, mengingat jasa M. Tabrani berarti menyadarkan kita bahwa bahasa Indonesia adalah rumah besar yang menyatukan lebih dari 270 juta jiwa. Dengan bahasa Indonesia, kita punya daya tawar dalam percaturan global tanpa kehilangan identitas.

Lebih jauh, semangat M. Tabrani juga dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda. Ia adalah contoh bahwa ide besar bisa lahir dari keberanian berpikir melampaui zamannya. Ia tidak sekadar mengikuti arus, tetapi berani menciptakan arus. Bagi mahasiswa, pelajar, maupun peneliti, mengenang M. Tabrani berarti belajar tentang pentingnya mengaitkan bahasa dengan kebangsaan, dan kebangsaan dengan masa depan.

Pada akhirnya, Bulan Bahasa bukan hanya tentang nostalgia, melainkan momentum untuk refleksi: apakah kita sudah cukup bangga menggunakan bahasa Indonesia? Apakah kita sudah merawatnya di tengah arus digital yang penuh istilah asing? Menjawab pertanyaan itu, kita layak kembali menengok gagasan M. Tabrani. Sebab, berkat keberaniannya, sampai hari ini kita punya bahasa Indonesia, bahasa yang bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga jiwa pemersatu bangsa.

 


Editor: Achmad Firdausi