Trilogi ‘Medan Magnet’ Pesantren
- Diposting Oleh Achmad Firdausi
- Selasa, 21 Oktober 2025
- Dilihat 414 Kali
Oleh: Affan, M.M.
(Mahasiswa Program Doktor Pascasarjana UIN Madura)
Berdasarkan data EMIS Tahun 2024, jumlah pesantren mencapai 41.286 lembaga, dengan jumlah santri sebanyak 3.339.536, dan jumlah pengajar serta tenaga kependidikan sebanyak 284.662 (Kosim: 2025). Akan tetapi, akhir-akhir ini pesantren bertambah masyhur dan booming pasca ‘ujian-ujian’ yang terjadi di beberapa pesantren ‘tenar’ dengan beragam problematika ‘rumah tangga’ pesantren itu sendiri. Mulai (dan yang paling mencuat) seperti ambruknya musholla Pondok Pesantren Al Khoziny Buduran Sidoarjo, pemberitaan trans7 tentang anggapan pesantren menganut feodalisme, dan munculnya beragam komentar di media facebooks, tiktok, instagram dan media massa yang lain dari yang bernada sinis dan bahkan cacian dengan eksistensi pesantren, sampai yang membela mati-matian terhadap lembaga yang bernama pesantren.
Hal ini menurut penulis adalah sebagai bentuk bahwa Allah SWT ingin menyampaikan kepada makhluk-Nya bahwa segalanya ada di dalam kudrat iradah-Nya. Manusia hanya berusaha, tapi Allah lah yang menentukan semuanya. Manusia hanya bisa mengamalkan firman-Nya bahwa barang siapa menolong Allah, maka Allah juga akan menolongnya (Intansurullah yansurkum). Menolong di sini diantaranya adalah menegakkan syariat-syariat-Nya sesuai dengan ketentuan-ketentuan dan qonun agama Islam yang dibawa dan disampaikan Nabi Muhammad SAW.
Maka seyogyalah bagi pengelola pesantren dan terutama pada santri agar isntrospeksi diri, apakah ada yang ‘salah’ dari pesantren itu sendiri, atau dari santri itu sendiri. Tentunya salah tersebut diantaranya adalah kembali pada diri masing-masing person (pengelola pesantren, santri, civitas akademika pesantren), apakah ‘salah’ itu secara dhohir ataukah salah itu (dan biasanya ini yang kurang diperhatikan) batin.
Selanjutnya, trilogi medan magnet (daya tarik) pesantren-pesantren yang ada di indonesia sampai saat ini adalah: Pertama, adalah penggemblengan sikap tawakkal (pasrah diri kepada Allah SWT). Tawakkal dalam tulisan bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan menggabungkan ikhtiar dengan keyakinan bahwa hasil akhir berada di tangan Allah. Santri yang sejak awal masuk sudah diajarkan dan bahkan ditanamkan rasa tawakkal ini merupakan bentuk eksplisit ‘potret’ riil masyarakat ‘kebanyakan’ (grassroot), dimana bentuk bahwa diantara mereka masyarakat, kesehariannya tidak lebih baik dari keberadaan santri di pesantren atau bahkan lebih parah; kedua, adanya pembelajaran dan sikap insyirâhus syudûr (lapang dada), menerima kenyataan hidup yang ada (yang dimulai dari) keseharian pesantren. Pesantren biasanya terdiri dari beragam etnis dan bahkan ras santri. Para santri ‘harus’ mampu memulai untuk saling lapang dada berkumpul, bersama dengan santri yang lain yang notabene berasal dari latarbelakang yang berbeda, berbeda budaya, golongan, politik, ekonomi dan bahkan kultur mereka. Pesantren (meminjam istilah Abu Nafa) ‘mini society’ dari general of society masyarakat di luar pesantren.
Ketiga, adalah sikap Ikhlâsun niyyah atau sincerity for God (kemurnian hati mengerjakan apapun kewajiban-kewajiban yang ada di pesantren, hanya karena semata-sama diniati ibadah dan mengharap ridha Allah SWT.). Apapun yang dilakukan santri di pesantren, sudah barang tentu didahului niat yang baik tersebut. Karena bentuk kebaikan apapun yang dikerjakan, ketika tidak diniati hanya untuk mengharap ridha dan rahmat-Nya, maka hal itu merupakan hal yang sia-sia dan tidak bernilai baik atau dalam agama Islam tidak bernilai ibadah. Innamal a’mâlu bin niat. Wallâhu a’lam bimurôdih.
Editor: Achmad Firdausi