Pedagogi Kritis Dalam Islam
- Diposting Oleh Achmad Firdausi
- Selasa, 2 Desember 2025
- Dilihat 403 Kali
Oleh: Affan, M.M.
(Mahasiswa Program Doktor Pascasarjana UIN Madura)
Tulisan ini merupakan hasil pemikiran penulis tentang bagaimana pendidikan (secara umum) saat ini idealnya menjadi sarana memanusiakan manusia. Pedagogi yang sejatinya merupakan salah satu pendekatan -dari tiga pendekatan, yakni pedagogi, andragogi dan heutagogi- telah mengalami pergeseran haluan. Pedagogi yang awalnya merupakan ilmu dan seni tentang pengajaran, khususnya untuk anak-anak, yang di dalamnya mencakup strategi, metode, dan pendekatan untuk memfasilitasi pembelajaran yang efektif, oleh Paulo Freire dan Joe L. Kinchelo dimodifikasi dengan istilah pedagogi kritis (critical pedagogy). Pedagogi kritis (critical pedagogy) sendiri adalah pendidikan yang selalu mempertanyakan dan kritis terhadap pendidikan itu sendiri dalam hal fundamental tentang pendidikan baik tataran teori, kebijakan hingga implementasinya.
Kritik pedagogik adalah suatu kritik yang dilakukan oleh tenaga pendidik kepada peserta didiknya dengan tujuan untuk meningkatkan kematangan atas teknik pembelajaran, dan estetik pengajaran peserta didik. Dengan adanya kritik ini dapat mendorong semangat peserta didik dalam belajar dan bahkan bekerja untuk meningkatkan prestasinya. Kritik ini juga termasuk dalam kritik konstruktif dan membangun masa depan peserta didik.
Selanjutnya, pedagogi kritis mempunyai pendekatan yang pada dasarnya demokratis, informal, non-hierarkis, ditentukan oleh partisipan, mengutamakan kaum tertindas dan perspektif mereka, serta berkomitmen pada tindakan (aktualisasi diri: meminjam istilah Abraham Maslow). Pendidikan tinggi (PT), sebaliknya, seringkali tidak demokratis, formal, hierarkis, ditentukan oleh tutor dan badan nasional, mengukuhkan kembali privilese yang ada, dan jauh dari pengalaman hidup.
Teori ini berawal dari premis bahwa pedagogi kritis dimungkinkan dalam perguruan tinggi, sekaligus mengakui adanya ketegangan yang perlu diatasi dalam upaya penerapannya. pedagogi kritis juga mengkaji ulang konsep tersebut dan mengeksplorasi penerapan praktisnya di tingkat institusi, dalam kurikulum, dalam asesmen, melalui pembelajaran dan pengajaran, serta dalam ruang-ruang di antaranya. Pendidikan Tinggi menyediakan titik masuk ilmiah dan praktis bagi akademisi ke dalam bidang-bidang utama praktik pendidikan tinggi. Setiap teori dalam seri ini mengeksplorasi topik individual secara mendalam, memberikan ikhtisar terkait pemikiran dan praktik terkini, yang diinformasikan oleh penelitian terkini. Seri ini akan menarik bagi mereka yang terlibat dalam studi pendidikan tinggi, mereka yang terlibat dalam memimpin pembelajaran dan pengajaran atau bekerja di bidang pengembangan akademik, dan individu yang ingin mengeksplorasi topik-topik tertentu yang menarik secara profesional. Melalui keterlibatan kritis, seri ini bertujuan untuk memperluas pemahaman tentang menjadi seorang akademisi –menghubungkan penelitian, pengajaran, keilmuan, keterlibatan masyarakat, dan kepemimpinan– sekaligus mengembangkan kepercayaan diri dan otoritas.
Kritik pedagogik (secara umum) bertujuan untuk mengangkat atau meningkatkan kepekaan artistik serta estetika subjek belajar seni. Jenis kritik ini umumnya digunakan di lembaga-lembaga pendidikan seni terutama untuk meningkatkan kualitas karya seni yang dihasilkan peserta didiknya yang nota bene adalah peserta didik pada jenjang sekolah dasar, menengah, dan atas.
critical pedagogy ketika ditarik kepada ranah pendidikan Islam sejalan dengan sabda Nabi SAW. bahwa manusia itu dianjurkan menjadi âlim. Âlim di sini merupakan tataran teori pedagogis kritis dengan memahami teks atau konteks ilmu pengetahuan. Âlim adalah keadaan seseorang yang mampu membaca, memahami (tafaqquh fiddin) ilmu pengetahuan secara menyeluruh, komprehensif aplikatif. Artinya bahwa seseorang -dengan penguasaan ilmu pengetahuan yang dimilikinya- mampu melihat orang lain di sekitarnya, yang sama dengan dirinya yang juga ‘harus’ diperlakukan seperti bagaimana perlakuan orang lain kepada dirinya. Seseorang yang sudah âlim, lambat laun akan sadar -dengan penguasaan teori pengetahuannya- bahwa ilmu pengetahuan itu akan mampu menjadikan makhluk Allah SWT. selain dirinya sama dengan diri bagaimana diperlakukan. Dan inilah yang satu sisi dinamakan memanusiakan manusia.
Kesadaran (awareness) inilah diantaranya yang dimaksudkan dengan pedagogi kritis dalam Islam. Dan kalau ditarik ke dalam contoh pedagogik ala Nabi Muhammad SAW. bahwa manusia yang tidak mempunyai kasih sayang kepada yang lain, maka dia akan juga tidak disayang (man la yarham lâ yurham). Pedagogi kritis yang seperti inilah yang dimaksud dengan pendidikan memanusiakan manusia. Dan ini merupakan salah satu contoh dari sekian contoh tentang tataran teori critical pedagogy.
Dalam tataran implemetasi critical pedagogy, para pendidik -baik guru termasuk di dalamnya adalah dosen)- ke âlim an mereka perlu implementasi ril dalam melakukan pedagogi kritis dalam Islam di sekolah, madrasah, dan bahkan perguruan tinggi. Penerapan teori -dari ke âlim an yang melekat pada tenaga pendidik minimal menjadi uswatun hasanah (contoh teladan yang baik). Dan apabila tenaga pendidik sudah menjadi uswatun hasanah, maka peserta didik -di masa yang akan datang sebagai generasi penerus- juga akan mengikuti jejak langkah para tenaga pendidiknya. Wallahu a’lm bumuradihi.
Editor: Achmad Firdausi