Menyembelih Ego dalam Momentum Idul Adha
- Diposting Oleh Achmad Firdausi
- Selasa, 26 Mei 2026
- Dilihat 358 Kali
Oleh : Suwantoro
(Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Madura)
Ada dua hari raya dalam Agama Islam yang senantiasa hadir membawa makna spiritual dalam kehidupan umat Muslim, yakni Idul Fitri dan Idul Adha. Keduanya bukan sekadar penanda datangnya momentum keagamaan tahunan, tetapi juga mengandung nilai-nilai yang terus relevan dalam kehidupan manusia. Idul Fitri mengajarkan makna kemenangan setelah sebulan penuh menahan hawa nafsu dengan berpuasa, sedangkan Idul Adha menghadirkan pelajaran tentang ketundukan, pengorbanan, dan keikhlasan melalui ibadah kurban serta keteladanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.
Momentum Idul Fitri 1447 Hijriah dengan suasana saling memaafkan dan kembali menyucikan diri sudah selesai momentumnya, dan kini umat Islam kembali dipertemukan dengan Idul Adha 1447 Hijriah yang menghadirkan dimensi spiritual berbeda. Tidak lagi hanya berbicara tentang kemenangan menahan diri, Idul Adha mengajak manusia merenungkan makna pengorbanan, keikhlasan, serta kesiapan seorang hamba dalam menempatkan ketaatan kepada Tuhan di atas kepentingan dan kecintaan pribadinya.
Sejarah Idul Adha berangkat dari peristiwa besar yang memperlihatkan betapa beratnya ujian ketundukan yang harus dihadapi Nabi Ibrahim. Perintah untuk mengorbankan Nabi Ismail, anak yang telah lama dinanti dan sangat dicintainya, bukanlah perkara sederhana. Peristiwa itu bukan hanya tentang penyembelihan, tetapi tentang bagaimana manusia diuji ketika rasa memiliki bertemu dengan perintah Tuhan. Dari sinilah kita semua bisa belajar bahwa yang paling sulit dilepaskan salah satunya adalah sesuatu yang terlalu dicintai dan terlalu kuat dipertahankan.
Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail pada akhirnya tidak hanya menjadi cerita keagamaan yang terus diulang setiap datangnya Idul Adha. Ada pelajaran besar tentang pergulatan manusia melawan dirinya sendiri. Nabi Ibrahim sedang belajar menundukkan rasa memilikinya, sedangkan Nabi Ismail memperlihatkan keteguhan hati dalam menerima ketetapan Tuhannya. Peristiwa tersebut seolah memberikan isyarat bahwa ujian terbesar manusia sering kali bukan datang dari kekurangan, tetapi dari hal-hal yang membuat manusia terlalu mencintai dirinya sendiri, termasuk ego yang perlahan tumbuh tanpa disadari.
Ego memang tidak selalu hadir dalam bentuk kesombongan yang tampak jelas. Kadang ia (ego) tumbuh melalui keinginan untuk selalu dihargai. Kadang juga muncul dalam rasa ingin dianggap paling benar. Ada orang yang mudah marah ketika pendapatnya tidak diterima. Ada juga yang sulit menerima kritik karena merasa dirinya paling memahami keadaan. Bahkan ada pula yang gemar memperlihatkan kebaikan agar mendapat pengakuan dari orang lain. Hal-hal semacam itu terlihat sederhana, tetapi perlahan dapat membuat manusia lebih sibuk menjaga gengsi daripada menjaga ketulusan dalam dirinya.
Kehidupan hari ini seakan memberi ruang yang semakin luas bagi tumbuhnya ego. Perkembangan media sosial yang begitu pesat misalnya, turut memperkuat kecenderungan tersebut melalui budaya pencitraan, pencarian pengakuan, dan keinginan untuk selalu terlihat lebih baik di hadapan publik. Tidak sedikit orang yang kemudian lebih sibuk membangun citra diri daripada membangun kualitas diri, sehingga ukuran keberhasilan sering kali bergeser dari manfaat yang diberikan kepada orang lain menjadi seberapa besar perhatian yang berhasil diperoleh.
Realitas semacam itulah yang membuat makna Idul Adha terasa semakin dekat dengan kehidupan manusia hari ini. Kurban tidak semestinya dipahami sebatas ritual penyembelihan hewan yang berlangsung setahun sekali. Ada pelajaran tentang kemampuan manusia mengendalikan dirinya sendiri yang harus dilakukan setiap hari. Tidak sedikit orang sanggup mengorbankan harta, tetapi sulit mengorbankan gengsi, rasa paling benar, dan keinginan untuk selalu dipuji. Padahal ego yang terus dipelihara sering melahirkan kesombongan, permusuhan, serta hilangnya ketulusan dalam hubungan antarmanusia.
Dalam konteks inilah, kita harus senantiasa belajar “menyembelih ego” kita masing-masing, meskipun dalam praktiknya menyembelih ego ini bukan perkara mudah. Tapi kita tetap harus selalu mencoba. Karena, Ego yang terus tumbuh dan tidak terkendali sering kali melukai hati orang lain tanpa disadari. Luka akibat benda tajam mungkin dapat sembuh dalam waktu tertentu, tetapi luka akibat ego dapat bertahan sangat lama. Banyak hubungan rusak karena tidak ada yang mau mengalah. Banyak persaudaraan retak karena masing-masing sibuk mempertahankan gengsi. Bahkan tidak sedikit manusia kehilangan ketenangan hidup hanya karena terlalu ingin menjadi lebih tinggi daripada orang lain.
Kesadaran untuk menyembelih ego merupakan salah satu tantangan terbesar dalam sepanjang kehidupan manusia. Menyembelih ego sepertinya kelihatan sangat mudah, tetapi kenyataannya banyak manusia yang belum mampu melakukannya. Padahal, ego yang tak mampu “disembelih” atau tidak mampu dikendalikan sering melahirkan kesombongan, permusuhan, serta hilangnya ketulusan dalam hubungan antar manusia. Pada akhirnya, pengorbanan terbesar dalam kehidupan ini bukan selalu tentang harta yang diberikan, melainkan juga kemampuan seseorang mengendalikan dirinya sendiri demi menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.
Barangkali karena alasan itulah Idul Adha tidak pernah kehilangan maknanya sampai hari ini. Peristiwa kurban bukan hanya mengajarkan manusia untuk memberi, tetapi juga mengajarkan keberanian melepaskan sesuatu yang terlalu kuat dipertahankan dalam dirinya sendiri. Ada kalanya kita sebagai manusia perlu belajar menurunkan rasa paling benar, menghentikan keinginan untuk selalu dipuji, serta menerima bahwa diri kita ini juga memiliki kekurangan sebagaimana orang lain.
Sebagai catatan penutup, bisa jadi tidak semua orang mampu berkurban dengan menyembelih hewan layaknya unta, kambing dan sapi. Akan tetapi, setiap orang memiliki "hewan" lain yang harus disembelih, yaitu ego yang sering kali melahirkan sikap merasa paling benar, paling penting, dan menunjukkan keangkuhan diri. Semoga momentum Idul Adha tidak hanya mengajarkan kepada kita tentang pengorbanan yang tampak di hadapan manusia, tetapi juga tentang keberanian menaklukkan ego yang bersemayam dalam diri. Aamiin.
Editor: Achmad Firdausi