Meneguhkan Madura sebagai Pulau Maritim
- Diposting Oleh Achmad Firdausi
- Rabu, 19 November 2025
- Dilihat 275 Kali
Oleh: Dr. Moh. Hafid Effendy, M.Pd.
(Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Madura dan Ketua Yayasan Pakem Maddhu)
Madura, pulau yang selama ini lebih dikenal lewat kultur agraris dan tradisi perdesaannya, sejatinya memiliki identitas yang jauh lebih tua dan lebih kuat: identitas maritim. Jika kita memotret sejarah, jelas bahwa laut bukan hanya pembatas geografis bagi orang Madura, tetapi ruang hidup, ruang budaya, dan ruang ekonomi yang membentuk karakter masyarakatnya. Karena itu, meneguhkan Madura sebagai pulau maritim bukanlah upaya menciptakan identitas baru, melainkan mengembalikan identitas lama yang sempat terpinggirkan oleh modernisasi daratan.
Sejumlah temuan sejarah menunjukkan betapa pentingnya laut bagi Madura. Catatan Belanda pada abad ke-17, misalnya, menempatkan Kalianget sebagai salah satu pelabuhan garam dan pusat distribusi laut terbesar di wilayah timur Jawa. Pelabuhan ini menjadi simpul perdagangan antara Madura, Makassar, dan pesisir Jawa. Bahkan, penelitian historiografi oleh Kuntowijoyo dalam kajian tentang Madura mengungkap bahwa masyarakat Madura pada masa kerajaan Sumenep telah mengembangkan jaringan pelayaran dan perdagangan yang aktif di Laut Jawa dan Selat Madura.
Temuan lain datang dari sejarah migrasi pelaut Madura. Sumber-sumber kolonial abad ke-19 menyebutkan bahwa pelaut Madura merupakan salah satu kelompok yang paling banyak mengisi kapal-kapal niaga Nusantara. Mereka dikenal sebagai pabbajari pelaut yang terampil, pemberani, dan menguasai navigasi tradisional. Komunitas pelaut Madura bahkan tercatat sampai ke Kalimantan, Sulawesi, dan Singapura. Jejak sejarah ini menunjukkan bahwa identitas maritim bukan sekadar kegiatan ekonomi, tetapi bagian integral dari etos hidup masyarakat Madura.
Di wilayah timur Madura, khususnya Kangean dan Sapudi, sejarah maritim terlihat lebih kuat lagi. Kepulauan ini sejak abad ke-18 telah menjadi jalur persinggahan pelayaran rempah Nusantara. Para sejarawan mencatat bahwa kapal-kapal dari Buton dan Makassar kerap berhenti di perairan Kangean untuk mengambil air bersih dan berdagang. Ini menjadi bukti bahwa Madura bukan hanya pulau, melainkan simpul perlintasan maritim penting di masa lalu.
Namun ironisnya, identitas maritim ini sering kali tereduksi dalam kebijakan pembangunan modern. Madura lebih banyak diposisikan sebagai pulau agraris, padahal sejarah jelas menunjukkan sebaliknya. Jika Madura ingin menatap masa depan dengan percaya diri, maka orientasi pembangunan yang berbasis kelautan harus kembali diperkuat. Modernisasi pelabuhan rakyat, peningkatan armada perikanan, hingga pemberdayaan masyarakat pesisir merupakan langkah yang perlu segera diambil.
Menghidupkan kembali identitas maritim bukan berarti kembali ke masa lalu, melainkan menjadikan sejarah sebagai fondasi masa depan. Madura memiliki warisan pelaut ulung, pelabuhan bersejarah, serta jaringan perdagangan kuno yang membuktikan bahwa laut adalah bagian esensial dari kehidupan masyarakatnya. Jika warisan ini diolah dengan bijak, Madura berpotensi menjadi pusat maritim penting di Indonesia.
Kini waktunya melihat laut bukan sebagai batas, tetapi sebagai peluang. Meneguhkan Madura sebagai pulau maritim berarti meneguhkan kembali jati diri yang telah melekat sejak berabad-abad. Dengan sejarah sebagai pijakan, Madura dapat bergerak menuju masa depan yang lebih sejahtera dan lebih berdaya.
Editor: Achmad Firdausi