Merawat Seni Pertunjukan Islami melalui Dakwah
- Diposting Oleh Achmad Firdausi
- Senin, 10 November 2025
- Dilihat 431 Kali
Oleh: Dr. Moh. Hafid Effendy, M.Pd.
(Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Madura dan Ketua Yayasan Pakem Maddhu)
Di tengah derasnya arus hiburan modern yang kian kompetitif dan sering kali jauh dari nilai-nilai moral, seni pertunjukan Islami hadir sebagai oase yang menyejukkan. Namun, realitas menunjukkan bahwa eksistensi seni pertunjukan Islami masih belum menempati posisi strategis di ruang publik. Inilah saatnya kita merawat, memelihara, mengembangkan, dan menghidupkan kembali seni pertunjukan Islami melalui jalan dakwah yang kreatif, kontekstual, dan menyentuh hati masyarakat.
Seni dan dakwah sejatinya memiliki ruh yang sama, keduanya mengajak manusia menuju kebaikan. Seni pertunjukan Islami, seperti musik religi, teater dakwah, tari sufistik, hingga drama pesantren, dapat menjadi media efektif untuk menyampaikan pesan-pesan keislaman dengan cara yang indah dan mudah diterima. Sayangnya, potensi besar ini belum sepenuhnya tergarap optimal. Banyak pertunjukan Islami masih terbatas pada momentum-momentum keagamaan, belum menjadi bagian dari kehidupan budaya sehari-hari.
Dakwah melalui seni pertunjukan tidak harus bersifat kaku atau menakutkan. Justru, pendekatan dakwah yang membungkus pesan moral dengan estetika seni akan lebih mudah diterima masyarakat luas, terutama generasi muda. Misalnya, pementasan teater dengan tema kejujuran, film pendek bertema hijrah, atau musik Islami dengan sentuhan modern yang tetap menjaga nilai syariat. Bentuk-bentuk seperti ini bukan hanya menghibur, tetapi juga menginspirasi dan menanamkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan.
Merawat seni pertunjukan Islami juga berarti membuka ruang kolaborasi antara seniman, dai, dan lembaga pendidikan pesantren, misalnya dapat menjadi laboratorium seni dakwah yang hidup. Di sana, santri tidak hanya belajar kitab kuning, tetapi juga belajar bagaimana mengomunikasikan nilai Islam melalui puisi, teater, dan musik. Di era digital, kolaborasi ini dapat diperluas melalui platform media sosial dan kanal YouTube untuk menjangkau audiens global.
Pemerintah daerah dan lembaga kebudayaan juga memiliki peran penting dalam proses ini. Dukungan berupa festival seni Islami, pelatihan kreatif, dan penghargaan bagi pelaku seni dakwah akan menumbuhkan semangat baru bagi generasi muda untuk berkarya. Seni pertunjukan Islami tidak boleh dipandang sekadar pelengkap kegiatan keagamaan, melainkan bagian integral dari pembangunan karakter bangsa.
Pada akhirnya, merawat seni pertunjukan Islami melalui dakwah bukan sekadar tentang menjaga tradisi, tetapi tentang menghidupkan nilai-nilai Islam dalam ruang ekspresi budaya. Seni yang bernafaskan Islam adalah seni yang membimbing, bukan menyesatkan; menghibur, bukan melalaikan; mendidik, bukan menjerumuskan. Inilah dakwah yang indah yang berbicara dengan rasa dan menembus jiwa.
Saatnya kita semua, para dai, seniman, akademisi, dan masyarakat, bersinergi menghidupkan seni pertunjukan Islami. Sebab, lewat seni yang menyentuh hati, dakwah akan lebih bermakna, lebih membumi, dan lebih abadi.
Editor: Achmad Firdausi