Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 898-9700-500

Email

info@uinmadura.ac.id

Literasi Digital di Bulan Suci: Menjaga Etika Bermedia sebagai Ibadah Ghairu Mahdhah

  • Diposting Oleh Achmad Firdausi
  • Rabu, 25 Februari 2026
  • Dilihat 16 Kali
Bagikan ke

Oleh: Prof. Dr. H. Atiqullah, S.Ag., M.Pd.

(Guru Besar Kepemimpinan Pendidikan Islam & Direktur Pascasarjana UIN Madura)

Bulan suci Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Masjid-masjid lebih ramai, lantunan ayat suci menggema, dan semangat berbagi meningkat di tengah masyarakat. Namun, ada satu ruang yang tak kalah padat dari saf salat tarawih: ruang digital. Di sanalah jutaan orang bertemu, berbagi kabar, berdiskusi, bahkan berdebat. Pertanyaannya, sudahkah aktivitas kita di media sosial menjadi bagian dari ibadah?

Dalam khazanah fikih, ibadah tidak hanya dimaknai sebagai ritual mahdhah seperti salat dan puasa. Ada pula ibadah ghairu mahdhah, yakni segala aktivitas yang bernilai kebaikan dan diniatkan karena Allah. Bermedia sosial, jika dijalankan dengan etika dan tanggung jawab, dapat menjadi ladang pahala. Sebaliknya, tanpa kendali, ia bisa berubah menjadi sumber dosa.

Perkembangan teknologi membuat arus informasi begitu deras. Di platform seperti Instagram, TikTok, hingga WhatsApp, pesan berantai menyebar dalam hitungan detik. Di sinilah literasi digital menjadi penting. Literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan gawai, tetapi kecakapan memahami, memilah, dan memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya.

Ramadhan sejatinya adalah bulan pengendalian diri. Jika kita mampu menahan lapar dan dahaga, semestinya kita juga mampu menahan jari agar tidak mudah menekan tombol “kirim” atau “bagikan” tanpa berpikir panjang. Hoaks, fitnah, ujaran kebencian, hingga perundungan siber sering kali bermula dari kelalaian kecil: tidak tabayun.

Prinsip tabayun memiliki relevansi kuat di era digital. Setiap informasi yang diterima perlu diuji kebenarannya. Apalagi di bulan Ramadhan, ketika emosi cenderung lebih sensitif karena kondisi fisik yang lelah. Tidak sedikit perdebatan di media sosial dipicu oleh potongan video atau tangkapan layar yang tidak utuh. Tanpa klarifikasi, opini berkembang liar dan memicu polarisasi.

Kesalehan sosial di ruang digital berarti menghadirkan akhlak dalam setiap interaksi daring. Bahasa yang santun, komentar yang membangun, dan kritik yang disampaikan secara elegan adalah wujud nyata dari nilai-nilai Islam. Rasulullah SAW telah mencontohkan pentingnya menjaga lisan; di era kini, menjaga “jempol” memiliki makna yang sama.

Lebih jauh, literasi digital juga berkaitan dengan kesadaran akan jejak digital. Apa yang kita unggah hari ini bisa menjadi catatan panjang yang sulit dihapus. Bulan Ramadhan dapat menjadi momentum muhasabah, termasuk meninjau ulang konten-konten yang pernah kita bagikan. Apakah ia membawa manfaat atau justru mudarat?

Fenomena flexing atau pamer berlebihan juga kerap muncul di media sosial, termasuk saat Ramadhan. Niat berbagi momen berbuka atau kegiatan sosial bisa berubah menjadi ajang riya jika tidak disertai kehati-hatian. Di sinilah pentingnya meluruskan niat. Setiap unggahan seharusnya bertujuan menginspirasi, bukan memicu iri hati atau kompetisi semu dalam kebaikan.

Di sisi lain, ruang digital juga menyimpan potensi besar untuk dakwah dan edukasi. Banyak kajian daring, kultum singkat, hingga kampanye sosial yang memberikan dampak positif. Generasi muda, khususnya, dapat memanfaatkan momentum Ramadhan untuk menyebarkan konten-konten inspiratif. Mengutip ayat atau hadis dengan sumber yang jelas, menyajikan infografis edukatif, hingga menggalang donasi secara transparan adalah bentuk ibadah ghairu mahdhah yang relevan dengan zaman.

Peran keluarga dan lembaga pendidikan juga tidak kalah penting. Orang tua perlu menjadi teladan dalam bermedia sosial. Mengingatkan anak untuk tidak mudah percaya pada informasi sensasional, serta membiasakan diskusi kritis di rumah, adalah bagian dari pendidikan karakter. Sekolah dan pesantren pun dapat memasukkan literasi digital sebagai materi pendamping selama Ramadan.

Media massa seperti Jawa Pos Radar Madura pun memiliki tanggung jawab moral dalam membangun ekosistem informasi yang sehat. Pemberitaan yang akurat dan berimbang menjadi penangkal hoaks yang beredar di masyarakat. Kolaborasi antara media, tokoh agama, dan komunitas digital dapat memperkuat gerakan literasi digital berbasis nilai-nilai keislaman.

Akhirnya, Ramadhan mengajarkan bahwa esensi ibadah terletak pada transformasi diri. Bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan diri dari menyakiti orang lain—termasuk melalui kata-kata di dunia maya. Setiap klik, komentar, dan unggahan adalah cerminan akhlak.

Jika kita mampu menjadikan etika bermedia sebagai bagian dari ibadah ghairu mahdhah, maka ruang digital akan berubah menjadi ladang amal. Kesalehan sosial tidak lagi terbatas pada interaksi tatap muka, tetapi meluas hingga layar ponsel di genggaman. Dari Madura hingga penjuru negeri, Ramadhan dapat menjadi titik balik menuju budaya digital yang lebih santun, cerdas, dan penuh berkah.

 


Editor: Achmad Firdausi