Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 898-9700-500

Email

info@uinmadura.ac.id

HAJI MABRUR

  • Diposting Oleh Achmad Firdausi
  • Jumat, 28 Juni 2024
  • Dilihat 1066 Kali
Bagikan ke

Oleh: Prof. Dr. H. Mohammad Kosim, M.Ag.

Di pertengahan bulan Dzulhijjah, jamaah haji reguler gelombang pertama secara bertahap mulai meninggalkan kota Mekah menuju tanah air dan dilanjutkan ke tempat tinggalnya masing-masing, setelah ±40 hari (pergi-pulang) mereka melakukan safar guna melaksanakan ibadah haji dan umrah serta ibadah sunnah lainnya. Mereka pulang lebih awal, karena memang berangkat lebih awal. Dari Indonesia, mereka langsung menuju Madinah untuk berziarah ke makan Nabi Muhammad, Sang pencerah dari kegelapan dan pemilik syafaat `udzmā. Setelah sekitar 8-9 hari di Madinah, mereka lanjut ke Mekah hingga selesainya ibadah haji.

Bersamaan dengan jamaah haji reguler, mulai berdatangan pula jamaah ONH Plus, jamaah Furoda, dan jamaah haji lainnya. Sedangkan jamaah regular gelombang kedua, mereka--pasca haji--masih tinggal di Mekah untuk melanjutkan ibadah-ibadah sunnah, lalu menuju Madinah. Dan dari Madinah mereka akan kembali ke tanah air dan ke daerahnya masing-masing.

Karena itu, melalui tulisan ini, saya mengucapkan “Selamat kepada jamaah yang telah melaksanakan ibadah haji, selamat datang para tamu Allah (Dhuyūfur Rahmān), semoga menjadi haji mabrur”. Haji mabrur adalah haji yang diterima dan diridhai Allah yang balasannya surga, sebagaimana sabda Nabi “al-Hajjul mabrūr laisa lahū jazā-un illal jannatu” (Haji mabrur, tidak ada balasan baginya kecuali surga).  Apa tanda seseorang mendapat haji mabrur? Secara umum, pasca haji, ia menjadi muslim yang lebih baik dari sebelumnya, baik secara individual maupun social, secara vertikal maupun horizontal.

Suatu ketika, Sahabat bertanya kepada Nabi tentang tanda-tanda haji mabrur, Nabi menjawab “Ith`āmut tha`ām wa thībul kalām” (memberi makan dan bertutur kata yang baik). Dalam riwayat lain “Ith`āmut tha`ām wa ifsyā’us salām” (memberi makan dan menebarkan kedamaian). Dari hadits ini, Nabi memberikan penekanan akan pentingnya dampak social sebagai pertanda haji mabrur, yakni (1) menjaga lisan, (2) menebarkan kedamaian, dan (3) membantu kaum du`afa.