Malem Salekoran: Spirit Membangun Religiusitas dan Kesalihan Sosial
- Diposting Oleh Achmad Firdausi
- Rabu, 19 Maret 2025
- Dilihat 130 Kali
Oleh: Moh. Afandi
(Ketua Program Studi Hukum Ekonomi Syariah)
Bagi masyarakat Madura Malem Salekoran merupakan sebutan dari sebuah tradisi yang sangat dihormati. Tradisi yang jatuh pada malam ke-21 Ramadan yang menjadi penanda awal dari 10 hari terakhir bulan suci, di mana umat Islam memperingati dan mencari (keutamaan) malam Lailatul Qadar. Meskipun penamaannya dinisbatkan kepada tanggal 21, namun masyarakat Madura percaya bahwa malam-malam tersebut merupakan waktu yang sangat berkah. Tradisi ini lahir dari perintah agama di mana umat Islam dianjurkan untuk mencari Lailatul Qadar, yaitu malam yang dipercaya lebih baik dari seribu bulan, yang jatuh pada malam-malam ganjil di 10 malam terakhir bulan Ramadhan. Waktu-waktu tersebut menjadi momen yang sangat penting untuk bermunajat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan memperbanyak ibadah seperti shalat sunnah, doa, dzikir, membaca Al-Qur'an dan berbagai kegiatan sosial.
Malem Salekoran tidak hanya menjadi penanda dimulainya kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi awal bagi terlaksananya berbagai tradisi keagamaan lainnya dalam bentuk yang sangat bervariasi. Salah satu bentuk umum dari pelaksanaan tradisi ini adalah Salametan, yang dilakukan sejak menjelang sore hingga setelah shalat Tarawih. Warga berkumpul di masjid untuk berdoa bersama, memohon berkah dan rahmat dari Allah SWT, serta melakukan tadarus dan dzikir. Kegiatan ini juga memperkuat hubungan antarwarga, menyatukan berbagai latar belakang di dalam masyarakat sebagai simbol kebersamaan untuk meraih keberkahan.
Selain pelaksanaan Salametan di masjid, ada pula warga yang memilih untuk melaksanakan acara ini di rumah, dengan mengundang tetangga untuk berkumpul. Setiap keluarga menyiapkan hidangan khas yang kemudian dibagikan kepada tamu. Tradisi ini menekankan pentingnya hubungan kekeluargaan dan solidaritas antarwarga, serta menunjukkan semangat berbagi dalam komunitas. Mengundang tetangga untuk berbagi makanan menjadi simbol keikhlasan dan gotong-royong yang sangat kental dalam masyarakat Madura.
Ada juga yang melakukan dengan cara ter-ater, di mana makanan yang disajikan pada acara Salametan diantarkan kepada tetangga atau mushalla terdekat. Kegiatan ini mendorong warga untuk berbagi kebahagiaan, mempererat persaudaraan, dan meraih pahala melalui kebersamaan di malam yang penuh berkah ini.
Hidangan khas yang disajikan pada Malem Salekoran memiliki makna simbolis yang mendalam. Ketan, dengan teksturnya yang lengket dan kenyal, melambangkan persatuan dan kekuatan. Proses memasaknya yang memerlukan kesabaran juga mencerminkan ketekunan dalam menjalani ibadah Ramadhan. Ketan menggambarkan kebersamaan dan gotong royong, karena masyarakat Madura menyiapkannya bersama-sama, mempererat ikatan sosial antarwarga.
Serabi merupakan makanan tradisional yang terbuat dari adonan tepung beras, kelapa, dan santan. Dalam budaya Jawa, serabi tidak hanya dianggap sebagai makanan ringan atau camilan, tetapi juga memiliki makna simbolik yang dalam. Serabi menjadi simbol rasa syukur atas nikmat yang diberikan Tuhan serta mencerminkan budaya saling menghormati, di mana makanan ini sering disajikan dalam acara-acara bersama keluarga atau komunitas. Dengan bentuk yang sederhana namun lezat, serabi juga melambangkan kebersamaan dan kehangatan dalam hubungan sosial.
Sejalan dengan perkembangan zaman, dua jajanan tradisional ini, ketan dan serabi, mulai tergantikan oleh jajanan modern yang lebih praktis dan variatif. Meskipun demikian, hal ini tidak mengurangi makna simbolis yang terkandung dalam keduanya. Ketan dan serabi tetap menjadi bagian penting dari tradisi dan budaya, yang melambangkan kebersamaan, rasa syukur, dan gotong royong dalam masyarakat. Meskipun sering kali digantikan oleh makanan yang lebih modern, nilai-nilai luhur yang dibawa oleh malem salekoran tetap hidup dan dihormati, sebagai pengingat akan pentingnya menjaga ikatan sosial, berbagi, dan saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan lain yang menjadi rentetan Malem Salekoran antara lain santunan anak yatim dan kaum du'afa, ngosar makam, dan nyalase. Santunan anak yatim dan kaum du'afa merupakan kegiatan sosial yang bertujuan untuk meringankan beban mereka yang membutuhkan, terutama anak-anak yang telah kehilangan orang tua dan orang-orang yang hidup dalam kekurangan. Pemberian santunan berupa uang, pakaian, atau kebutuhan lainnya diharapkan dapat memberikan kebahagiaan dan sedikit meringankan kehidupan mereka. Selain itu, kegiatan ini juga mengingatkan masyarakat akan pentingnya berbagi, kepedulian sosial, dan mempererat tali persaudaraan antarwarga.
Sementara itu, ngosar makam adalah tradisi membersihkan makam yang biasa dilaksanakan menjelang hari raya Idul Fitri. Kegiatan ini dilakukan dengan bergotong-royong oleh masyarakat, yang tidak hanya bertujuan untuk menjaga kebersihan makam, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap orang yang telah meninggal. Selain itu, ngosar makam juga mempererat rasa kebersamaan antarwarga dan memperdalam nilai-nilai keagamaan serta sosial dalam masyarakat, sehingga memperkuat ikatan antara sesama.
Salah satu kegiatan penting yang dilakukan setelah malem salekoran adalah nyalase, yaitu ziarah kubur bersama atau secara individual untuk mendoakan sanak keluarga, kerabat, atau guru yang telah meninggal. Kegiatan ini bukan hanya sekadar penghormatan kepada yang telah tiada, tetapi juga sebagai sarana refleksi spiritual bagi yang masih hidup. Ziarah kubur mengingatkan masyarakat akan kematian serta pentingnya amal ibadah yang dilakukan selama hidup, sehingga meningkatkan kesadaran akan nilai kehidupan yang sementara dan makna dari setiap amal perbuatan.
Malem Salekoran tidak hanya mencerminkan kuatnya nilai religius dalam masyarakat Madura, tetapi juga sarat dengan nilai sosial yang mendalam. Melalui berbagi makanan, mengundang tetangga, dan kegiatan ter-ater, masyarakat Madura menunjukkan semangat kepedulian dan berbagi yang mengajarkan nilai kesalehan sosial, seperti gotong royong, kebersamaan, dan saling membantu antarwarga. Semangat berbagi dalam Malem Salekoran bertujuan menghindari sikap serakah dan mementingkan diri sendiri, sekaligus mempererat ikatan keagamaan dan sosial. Tradisi ini memperkokoh hubungan yang membangun masyarakat yang lebih adil, sejahtera, dan saling mendukung, serta mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati terletak pada kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama.
Melalui tulisan ini, mari kita terus lestarikan dan hidupkan tradisi Malem Salekoran beserta segala nilai positif yang terkandung di dalamnya. Tidak hanya sebagai ritual tahunan, tetapi lebih dari itu kita harus berupaya untuk membumikan nilai-nilai luhur yang dibawanya ke dalam kehidupan sehari-hari. Dengan terus memperbaiki penghambaan kita kepada Allah Swt serta memupuk semangat gotong royong, berbagi, dan peduli terhadap sesama, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih harmonis, saling mendukung, dan penuh berkah. Melalui Malem Salekoran, mari kita jadikan bulan Ramadan sebagai momentum untuk memperkuat religiusitas dan kesalehan sosial, sekaligus menjadikan kebersamaan sebagai pondasi kokoh dalam kehidupan beragama dan berbangsa yang lebih baik.
Editor: Achmad Firdausi