Pesantren Kusayang; Pesantrenku Malang
- Diposting Oleh Achmad Firdausi
- Senin, 20 Oktober 2025
- Dilihat 943 Kali
Oleh: Dr. Syukron Affani, M.S.I.
(Ketua Pusat Kajian Pesantren dan Madurologi UIN Madura)
Saat Gus Ulil melayani Guru Gembul dalam diskusi di channel Youtube Cokro TV, tampak sekali ketimpangan dan jarak kedalaman pemahaman tentang dunia pesantren di antara keduanya. Gus Ulil, yang dulu jauh lebih “nakal” dari Guru Gembul dan kritik-kritik genitnya, berupaya memberi kata kunci “kompleksitas budaya pesantren” dan “insider-outsider.” Guru Gembul yang tampil mirip aktivis yang sedang bersemangat melahap referensi kritis dan disandera kecurigaan skeptik, membuat Gus Ulil dan Ahmad Sahal, dua tokoh santri yang berkolega di Utan Kayu yang liberal itu, dipaksa membandingkan diri mereka sendiri pada tahun 2000-an melalui Guru Gembul.
Kritisisme yang ramai terhadap pesantren (di media sosial) sepertinya muncul bermula secara “tidak sengaja” dari pernyataan tentang takdir Allah pada peristiwa robohnya musholla di Buduran, disusul cuplikan video santri gotong royong mencor lantai bangunan baru pondok, dan tayangan menghina di Trans 7. Pesantren dituding sarang feodalisme, ber-SDM rendah, memperbudak santri, memperkaya diri sendiri, dan bebal (anti-kritik). Pesantren seakan tidak memiliki reputasi intelektual, hanya sibuk sarungan ke mana-mana, dan bersarang di Kementerian Agama. Kebaikan pesantren dilenyapkan tanpa sisa. Masyarakat pesantren dibuat gregetan dan tercenung harus memulai dari mana untuk menanggapi secara elegan suara miring terhadap isu-isu yang berhubungan dengan nilai-nilai primordial komunitas budaya pesantren.
Bagaimana mungkin sejarawan sekelas Anhar Gonggong (dalam monolog di chanel You Tube-nya) tidak tahu bahwa pesantren telah bergerak melakukan perubahan-perubahan modern dan Gonggong dengan “lugu” meminta ekspose tayangan Trans 7 dijadikan bahan permenungan bagi khalayak pesantren. Pesantren bukan menyangkal tetapi tuduhan-tuduhan itu tidak layak dimenungkan karena hanya masalah fashion etiket yang disalahpahami saja; atau digagalpahami; atau memang sengaja dipahamisalah.
Anhar Gonggong pasti khilaf melupakan sosok Gus Dur dan sepak terjangnya telah memberi pengaruh besar terhadap generasi pesantren. Terlalu banyak nama yang layak disebut sebagai personifikasi keberhasilan pendidikan pencerahan pesantren. Pergumulan pesantren dengan kritisisme telah melewati dinamika dan sejarah yang tebal. Sayang generasi belakangan di luar pesantren tidak mengetahui bagaimana Gus Dur, santri-santri kekiri-kirian di IAIN pada tahun 1990-2000 an, dan santri-santri pemikir di Jaringan Islam Liberal telah khatam ber-asyiq-ma’syuq dengan wacana budaya progresif; mengarahkan moncong-moncong suara kritis yang menyalak ke mana-mana bahkan termasuk terhadap pesantren itu sendiri.
Menyadari Ekosistem Informasi di Era Media Sosial
Hanya mengingatkan kembali situasi saat ini masih situasi digital disruption (perubahan pola informasi yang mempengaruhi cara dan pandangan hidup akibat inovasi informasi digital sehingga mengganggu tatanan konvensional). Sebelum perkembangan digital menemukan bentuk massifnya dalam berbagai platform media sosial, perebutan ruang hanya terjadi di locus tempus yang terbatas. Kini dengan media sosial, fakta-fakta diangkat untuk merebut perhatian publik untuk mengkritik, menyudutkan, dan menyerang. Fakta-fakta itu dirangkai dengan logika-logika tertentu untuk mem-framing kelompok lain.
Siapapun yang hidup dengan kebanggaan tertentu sebagai personal atau suatu komunitas budaya dan dijangkiti “the past trap” atau “success trap” (jebakan masa lalu atau jebakan kesuksesan), akan linglung dengan pola-pola agresif khas digital disruption tersebut. Prinsip-prinsip konvensional (conventional wisdom) dan bukti-bukti historis (historical precedent) gagap menghadapi lompatan-lompatan perubahan kehidupan masyarakat. Situasi ini kemudian disebut dengan disruption (gangguan).
Tentu kejutan-kejutan inovatif dari situasi disrupsi telah memberi dampak positif di berbagai bidang pelayanan publik namun di sisi yang lain, memproduksi wacana-wacana dan informasi-informasi yang disalahgunakan (post-truth). Fenomena disrupsi memunculkan kecemasan dan kekuatiran. Siapa saja yang memiliki peluang algoritmatik echo-chamber (ruang gema) di media sosial, dapat menumbangkan eksistensi yang telah mapan; siapa pun itu. Seseorang dari latarbelakang apapun; tanpa pengetahuan memadai, dapat memviralkan pandangan-pandangannya dan menggeser pemahaman konvensional yang establish.
Tom Nicholson dalam karyanya yang berjudul The Death of Expertise mengutip David Dunning dan Justin Kruger, dua psikolog dari Cornell University, yang menyatakan bahwa seseorang (netizen) yang tidak kompeten, akan semakin yakin memiliki kompeten saat sebenarnya semakin tidak kompeten. Orang seperti itu bukan hanya salah menyimpulkan dan memilih, tetapi juga tidak mampu menyadari kesalahannya itu. Inkompetensi tersebut dikenal dengan istilah “efek Dunning-Kruger”. Maka lingkaran debat terjadi di mana-mana bercampur-campur dengan kepentingan pihak yang sengaja membuat kegaduhan. Pengetahuan-pengetahuan dihasilkan sekaligus dengan gesekan sosialnya karena tumbuh keyakinan bahwa semua orang setara tingkat pemahamannya. Bias informasi dan konfirmasi menjadi bumbu sedap dalam gesekan itu. Kecenderungan untuk hanya menerima bukti dan rasionalitas yang mendukung apa yang dipercayai, tampak alami.
Ala kulli hal, nilai keadaban dan peradaban pesantren seperti kerendahan hati, kesederhanaan, membersamai kelompok rentan, istiqomah merawat tradisi intelektual melalui ngaji, dan setia kepada para guru masyayikh, harus terus direaktualisasikan. Dan jangan lupa mengasah kegemaran mengolok-olok diri sendiri sebagai bentuk kepekaan humor khas pesantren. Selamat Hari Santri 22 Oktober 2025…!
Editor: Achmad Firdausi