Antara Bimtek dan Diklat
- Diposting Oleh Achmad Firdausi
- Selasa, 27 Januari 2026
- Dilihat 18 Kali
Oleh: Dr. Imam Amrusi Jailani, M.Ag.
(Ketua Program Studi Doktor Ilmu Syariah Pascasarjana UIN Madura)
Pembekalan keahlian secara teknis bagi setiap pelaksana tugas biasanya diberikan pada kegiatan Bimtek atau bimbingan teknik dan kadang juga pada kegiatan Diklat atau pendidikan dan latihan. Namun terkadang sulit untuk membedakan kedua kegiatan tersebut. Apakah keduanya memang sama atau ada perbedaan semacam nuansa atau perbedaan tipis. Begitu pula dalam penerapannya, harus selektif menerapkan keduanya. Kapan Bimtek itu diberikan dan kapan Diklat itu diberikan. Dalam banyak literatur yang sudah ditelusuri memang ada sedikit perbedaan antara Bimtek dan Diklat, walaupun lebih banyak persamaannya, sehingga sulit untuk menbedakan keduanya. Berikut ini dikemukakan beberapa perbedaan yang samar antara keduanya yang diperoleh dari hasil penelusuran pembacaan dari berbagai sumber. Namun terlebih dahulu kita harus mengerti apa sebenarnya Bimtek itu.
Bimtek atau bimbingan Teknis secara teori dan praktek merupakan bentuk pelatihan atau pembekalan secara intensif guna meningkatkan kompetensi pelaksana tugas atau peserta yang di gembleng melalui kombinasi pemahaman materi berupa konsep atau teori dan kemudian diaplikasikan langsung berupa praktik di lapangan. Bimbingan teknik ini bertujuan meningkatkan keterampilan, efektivitas, efisiensi kerja, serta pemahaman regulasi yang berlaku dan berkembang. Bimtek sering diselenggarakan oleh Lembaga-lembaga pemerintah maupun swasta.
Sedangkan komponen Utama yang disajikan dalam Bimtek berupa penyampaian teori, dengan alokasi pemaparan materi yang diberikan oleh narasumber atau tenaga ahli, yang meliputi konsep dasar, regulasi, atau pemahaman teknis. Kemudian dilanjutkan dengan sesi praktek, berupa aplikasi langsung dari materi yang sudah diberikan, bertransformasi dalam bentuk studi kasus, penggunaan aplikasi, simulasi, atau observasi lapangan. Bimtek biasanya dipersiapkan untuk peningkatan tata kelola pemerintahan atau pengadministrasian, keterampilan uji laboratorium, penggunaan aplikasi, peningkatan keterampilan guru, dan lain-lain. Sedangkan waktu yang dibutuhkan untuk Bimtek biasanya berlangsung selama beberapa hari untuk memastikan kemampuan peserta menguasai teori dan memiliki kemandirian.
Pada dasarnya Bimtek atau Bimbingan Teknis dan Diklat atau Pendidikan dan Pelatihan tidak ada bedanya. Akan tetapi pada fokus dan kedalamannya agak sedikit berbeda. Jika Bimtek berfokus pada peningkatan keterampilan teknis spesifik secara singkat bersifat aplikatif, maka Diklat lebih komprehensif, meliputi teori dan praktik terstruktur, sistematis, dan seringkali menyediakan sertifikasi kompetensi bagi para peserta. Jadi tujuan Bimtek untuk peningkatan kemampuan teknis operasional, dan Diklat bertujuan memberikan sertifikasi kompetensi atau peningkatan kualifikasi. Secara lebih terperinci, perbedaan antara Bimtek dan Diklat didasarkan beberapatujuan dan Fokus keduanya, di mana Bimtek bersifat lebih teknis, praktis, dan bertujuan memecahkan masalah spesifik atau mengimplementasikan kebijakan secara langsung. Sementara itu Diklat lebih luas, bertujuan meningkatkan kompetensi, pengetahuan, sikap, dan profesionalisme secara sistematisdan terstruktur.
Namun keudanya juga bisa dibedakan dari durasi kegiatannya, Bimtek durasinya lebih singkat berkisar dua dan tiga hari. Sementara Diklat lebih lama dan terencana, bisa memakan waktu berhar-hari, bahkan berminggu-minggu. Untuk narasumber Bimtek pada umumnya berasal dari kalangan praktisi yang ahli di bidangnya.Sedangkan Diklat pada umumnya dari unsur widyaiswara, para fungsionaris yang tersertifikasi pada bidangnya. Maka sebaiknya gunakan Bimtek jika memerlukan peningkatan skill praktis dengan cepat dan instan, dan gunakan Diklat jika bertujuan meningkatan kompetensi yang mendalam. Dari aspek metode, Bimtek: sering kali menggunakan metode ceramah, tanya jawab, tatap muka, dan studi kasus dalam mempraktikkan materi yang sudah dikuasai. Sedangkan Diklat pada umumnya menggunakan metode yang lebih formal dan terstruktur.
Editor: Achmad Firdausi