UPZ Simbol Semangat dan Kesadaran Berderma
- Diposting Oleh Widya Yuni Wulandari
- Senin, 2 Maret 2026
- Dilihat 58 Kali
Oleh: Dr. H. Imam Amrusi Jailani, M.Ag.
(Ketua Program Studi Doktor Ilmu Syariah Pascasarjana IAIN Madura)
Zakat dan saudara-saudaranya, seperti infaq, shodaqoh, hibah, wakaf, dan lain-lain merupakan bentuk filantropi dari ajaran Islam yang ditujukan kepada umat Islam untuk selalu berderma demi kebaikan. Untuk alasan itu pula zakat dan saudara-saudaranya diharapkan mampu memberdayakan ekonomi umat. UPZ (Unit Pengumpul Zakat) merupakan satuan organisasi yang dibentuk oleh BAZNAS (Badan Amil Zakat) untuk mengumpulkan, mendidtribusikan dan memberdayakan zakat untuk kemajuan perekonomian umat.
Potensi pemasukan yang diperoleh dari zakat begitu besar hingga mencapai 300 triliun, berdasarkan data yang dilaporkan oleh BAZNAS. Untuk memaksimalkan potensi yang begitu besar itulah, maka kemudian pembayaran dan penyaluran zakat dibuatkan wadah agar lebih tertib pengumpulan dan penyalurannya dan semakin maksimal dana yang diperoleh dari zakat. BAZNAS dibentuk sebagai wadah untuk pengumpulan dan penyaluran zakat. Urusan zakat pada awalnya menjadi bagian dari kinerja Kemenag, karena kementerian ini yang melahirkannya, kemudian dijadikan badan tersendiri yang mandiri secara mengelolaan.
Kenapa harus zakat, karena zakat merupakan nomenklatur pokok dalam merealisasikan filntropi Islam untuk perekonomian umat, walaupun di kanan kiri zakat masih ada infaq, shodaqoh, hibah serta wakaf. Zakat juga menjadi salah satu rukun Islam, zakat telah menjelma sebagai technik therm yang baku dan paten dalam memaksimalkan filantropi. Hal itu tidak dimaksudkan untuk mengunggulkan zakat dari yang lainnya atau untuk mengabaikan yang lainnya. Begitu pula membidik infaq dan shodaqoh tidak dimaksudkan untuk melupakan zakat, akan tetapi semuanya bisa dijadikan sebagai sarana yang sama-sama dipakai dalam memaksimalkan filantropi demi kemajuan perekonomian umat. Dalam hal ini, BAZNAS dan Leading sektornya harus bergerak cepat untuk menyambut dan menyongsong mereka yang masih bersemangat untuk mengeluarkan zakat, infaq dan sedekahnya serta wakaf dan lain-lainnya.
Di bawah BASNAS terdapat pejuang pejuang nya yang berupa Lazis (Lembaga Amil Zakat, Infak dan Shadaqoh) serta UPZ (Unit Pengumpul Zakat). UPZ inilah yang banyak diinisiasi dan dibentuk di berbagai institusi, seperti di kantor Kementerian, Pemda dan di perguruan tinggi. Jika di setiap kantor terdapat UPZ yang digagas untuk mengumpulkan zakat dari para pegawai atau ASN, berapa banyak zakat yang akan terkumpul dari para ASN di masing-masing kantor. Maka akan terkumpul puluhan bahkan ratusan juta setiap bulannya. Jika itu dimaksimalkan, karena keberadaan UPZ di sebuah kantor, tidak terkecuali di perguruan tinggi, fungsinya sebagai pemantik semangat dan kesadaran untuk berderma sehingga rasa syukur kita, tidak terasa setiap bulan itu sudah bisa berkontribusi melalui zakat yang dikelola oleh UPZ.
UPZ dibentuk tentunya sebagai komitmen bersama untuk merealisasikan ajaran Islam dan merupakan salah satu rukun Islam, yaitu zakat. Karena merupakan komitmen Bersama, tentunya harus didukung bersama pula. Dan sekecil apapun kontribusi dari setiap ASN, pegawai dan dosen yang ada di sebuah perguruan tinggi akan memberikan kontribusi yang besar bagi perkembangan dan kemajuan institusi itu sendiri. Tidak usah muluk-muluk, andaikan setiap ASN di sebuah perguruan tinggi setiap bulan menyetorkan zakat 100.000 rupiah saja, sudah berapa dana yang terkumpul, tentunya akan banyak, puluhan bahkan ratusan juta. Itulah komitmen yang harus dijalankan dan harus tetap semangat, karena kesadaran itu tidak instan, langsung ada pada setiap orang atau ASN. Untuk memunculkan kesadaran diperlukan keteladanan bagi pimpinan atau mereka yang menjadi decision maker di sebuah institusi, termasuk perguruan tinggi. Dengan keteladanan yang bisa memberikan pengaruh maka mereka yang sudah berkomitmen akan mendukung dengan kemampuannya untuk memakmurkan UPZ tersebut.
UPZ memerlukan aksi nyata sehingga terialisasi tujuan utamanya yaitu mewadahi kesadaran mereka untuk menyerahkan dan mengumpulkan zakat dari mereka serta menyalurkannya secara akuntabilitas sebagai bentuk amanah dari kepercayaan yang sudah diberikan oleh orang banyak, dalam hal ini civitas akademi. Akan tetapi, selama ini banyak UPZ di perguruan tinggi tidak berjalan sesuai yang diharapkan kebanyakan pihak, walaupun tidak mandul. Seringkali hanya melintas sebatas wacana dan sebagai bahan diskusi atau seminar, namun hanya terhenti di situ dan menguak hilang tanpa bekas. Rekomendasi yang dihasilkan dari pembahasan kadang mengambang dan tidak membumi menjadi sesuatu yang terealisasi, sehingga tidak memberikan dorongan yang positif terhadap kemajuan UPZ. Sebagai postulat, kemungkinan kurang adanya kepercayaan dari mereka untuk memasrahkan zakatnya kepada UPZ atau ada alasan lainnya. UPZ itu sebenarnya harus diposisikan pada tataran aksi, bukan untuk didiskusikan semata. Kalau hanya diskusikan saja tanpa ada aksi yang nyata, maka keberadaan UPZ itu tidak akan pernah maju dan tidak bisa memberikan kontribusi yang maksimal. Oleh karena itu perlu dimunculkan kesadaran dan komitmen yang nyata untuk menghidupkan UPZ itu sendiri, Kalau bukan kita yang menghidupkan, lantas siapa lagi, sehingga diharapkan di bulan suci Ramadhan ini, UPZ yang sudah ada di tengah-tengah kita bisa berkibar dan menjadi kebanggaan kita, karena ikut serta memakmurkan umat yang pada akhirnya umat menjadi tercerahkan dengan kontribusi UPZ.
Tetaplah bersemangat para punggawa atau pengelola UPZ, karena ditangan kalian sebenarnya diharapkan mampu memaksimalkan perburuan perolehan zakat, khususnya dari para ASN. Jadikanlah cuap-cuap di kanan kiri sebagai pemantik untuk lebih bersemangat dan jangan malah menjadi semakin mender dan kendor lantaran ada kasak kusuk di kanan kiri, yang sebenarnya mereka memiliki maksud untuk memberikan masukan yang baik demi kemajuan di masa yang akan datang. Dan perjuangan kalian pasti akan membuahkan hasil. Ingatlah, UPZ itu bukan hanya sekedar pemanis perguruan tinggi, untuk dikatakan lebih Islami, tapi UPZ sebenarnya wadah perjuangan dalam memajukan umat.
Editor: Achmad Firdausi