Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 898-9700-500

Email

info@uinmadura.ac.id

Ramadhan dan Self-Leadership, Pesan Strategis dalam Kuliah Dhuha UIN Madura

  • Diposting Oleh Widya Yuni Wulandari
  • Senin, 2 Maret 2026
  • Dilihat 72 Kali
Bagikan ke

Pamekasan | UIN Madura menyelenggarakan kegiatan Kuliah Dhuha yang bertempat di Masjid Kampus Darul Hikmah, Senin (02/03/2026). Kegiatan ini menjadi momentum spiritual sekaligus akademik dalam menyambut perkuliahan pascalibur awal Ramadhan.

Hadir sebagai narasumber, Prof. Dr. H. Atiqullah, S.Ag., M.Pd., Direktur Pascasarjana UIN Madura yang juga Guru Besar Kepemimpinan Pendidikan Islam. Kegiatan dipandu oleh Abdul Jalil, M.H.I., Wakil Dekan I Fakultas Syari’ah.

Dalam pemaparannya, Prof. Atiqullah menegaskan bahwa Ramadhan bukan sekadar momentum peningkatan ibadah ritual, melainkan ruang transformasi diri yang mendalam.

“Ramadhan adalah madrasah ruhani. Ia melatih manusia menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri sebelum memimpin orang lain. Inilah fondasi kepemimpinan dalam perspektif Islam,” ungkapnya.

Menurutnya, dalam konteks kehidupan kampus, Ramadhan menghadirkan peluang strategis untuk membangun kepemimpinan profetik diri, yakni kepemimpinan yang berakar pada nilai-nilai kenabian (prophetic values) seperti ṣidq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (transparan), dan fathanah (cerdas).

Pengendalian Diri sebagai Fondasi Kepemimpinan

Prof. Atiqullah menjelaskan bahwa kepemimpinan diri dimulai dari pengendalian nafsu. Puasa melatih self-control yang menjadi fondasi tazkiyatun nafs (penyucian jiwa).

Mahasiswa yang tetap disiplin mengikuti perkuliahan dan menyelesaikan tugas dengan tanggung jawab, serta karyawan yang menjaga etos kerja meski dalam kondisi berpuasa, sejatinya sedang membangun kualitas kepemimpinan internal.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa Ramadhan melatih integritas eksistensial. Puasa adalah ibadah personal yang hanya diketahui keasliannya oleh Allah SWT.

“Spirit ini harus diterjemahkan dalam budaya kerja dan budaya akademik. Tidak ada manipulasi laporan, tidak ada plagiarisme, tidak ada penyalahgunaan wewenang. Integritas adalah fondasi kepercayaan,” tegasnya.

Tanpa kepercayaan (trust), kepemimpinan akan rapuh. Karena itu, Ramadhan mendidik insan akademik menjadi pribadi yang utuh antara yang tampak dan yang tersembunyi.

Dimensi lain kepemimpinan profetik adalah kepedulian sosial. Puasa melahirkan empati terhadap kaum dhuafa melalui zakat, infak, dan sedekah.

Dalam konteks kampus, kepemimpinan profetik berarti membangun solidaritas antarsivitas akademika: saling mendukung, saling menguatkan, dan hadir bagi sesama yang membutuhkan.

“Inilah makna humanisasi dalam paradigma profetik—memanusiakan manusia,” ujarnya.

Prof. Atiqullah juga menegaskan pentingnya orientasi transendensi dalam setiap aktivitas akademik dan administratif. Perkuliahan, penelitian, maupun pelayanan bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari ibadah.

Ramadhan mengajarkan manajemen waktu, kedisiplinan, serta spirit ihsan—bekerja seolah-olah melihat Allah. Jika setiap individu membangun kepemimpinan profetik diri, maka secara kolektif akan terbentuk budaya organisasi yang unggul, bermoral, dan spiritual.

“Transformasi institusi selalu dimulai dari transformasi individu. Ramadhan menjadi titik tolak perubahan tersebut,” jelasnya.

Kegiatan ini dihadiri oleh Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, tenaga kependidikan, serta mahasiswa di lingkungan UIN Madura. Acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Dr. Ah. Fawaid, Lc., M.A., Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah.

 


Penulis: Achmad Firdausi