Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 324 6123433

Email

info@iainmadura.ac.id

MASJID (KAMPUS) DARUL HIKMAH

  • Diposting Oleh Admin Web IAIN Madura
  • Jumat, 8 Desember 2023
  • Bagikan ke

Oleh: Prof. Dr. H. Mohammad Kosim, M.Ag.

Namanya masjid Darul Hikmah, terinspirasi dari nama Darul Hikmah, lembaga & tempat pertemuan para ilmuwan yang dibangun di Kairo pada tahun 1005 M pada masa kepemimpinan Khalifah al-Hakim dari Daulah Fathimiyah. Dengan mengambil nama yang sama, masjid kampus ini juga diharapkan bisa meniru tradisi keilmuan yang dibangun Darul Hikmah.

Masjid kampus ini dibangun tahun 2007, saat Ketua STAIN Pamekasan periode 2004-2008 dijabat oleh Dra. Hj. Mariatul Qibtiyah, M.Ag. Bangunan masjidnya tidak besar, hanya berdiri di atas tanah seluas 338 m2. Ada 5 kubah di atas bangunan induk yang membuat masjid ini terlihat indah meskipun tanpa menara; satu kubah besar (di tengah) dan dikelilingi empat kubah lebih kecil. Di bagian dalam, sisi kanan-kiri, bangunannya berlantai dua. Sejak dibangun hingga kini, tidak ada perluasan gedung, kecuali rehab rutin, penambahan beberapa tempat wudu’ dan MCK, pemasangan AC, serta penambahan teras dari bahan galvalum untuk melindungi masuknya air hujan ke teras masjid.

Sebagaimana bangunan masjid pada umumnya, masjid kampus ini dibangun untuk tempat salat dan ibadah lainnya dalam arti luas. Bedanya, jika di masjid pada umumnya digunakan untuk ibadah salat jum`at dan salat lima waktu, masjid kampus ini hanya digunakan untuk salat wajib, itupun hanya salat duhur dan `ashar, mengikuti jam kantor dan jam kuliah. Jika bulan Ramadan, masjid ini juga dipakai untuk salat isya’, tarawih dan tadarus. Selebihnya tidak ada pengunjung.

Jika dilihat dari jumlah warga kampus (mahasiswa, dosen, dan pengawai) yang sekitar 8.000-an, masjid ini tidak akan muat untuk salat jamaah. Katakan, 2% saja dari jumlah tersebut yang ikut berjamaah (berarti 180 jamaah), masjid ini akan ramai dan penuh, apalagi sampai 5% (480 jamaah). Namun dalam realitas, setiap salat duhur, jumlah jamaahnya rata-rata tidak lebih dari dua shaf, bahkan seringkali hanya setengah shaf. Meskipun setelah jamaah angkatan pertama selesai, warga kampus datang bergelombang untuk mendirikan salat, baik salat munfarid maupun jamaah. 

Beberapa kali dilakukan upaya untuk meningkatkan jumlah jamaah, misalnya dengan “mewajibkan” pimpinan, pegawai dan tenaga kontrak untuk salat jamaah, plus kultum setelah duhur yang diisi secara bergilir oleh pimpinan dan dosen/pegawai. Tapi ramainya hanya beberapa waktu, dan kembali sepi. Pernah juga diadakan kajian rutin, dengan mengkaji kitab tertentu setelah asar, tapi juga tidak berlangsung lama, karena peminatnya sedikit dan kian berkurang.

Menjadi pertanyaan, mengapa masjid Darul Hikmah relatif sepi? Padahal lokasinya hanya beberapa langkah dari unit-unit kampus? Ternyata, di antara penyebabnya, karena di masing-masing unit di kampus telah berdiri “masjid-masjid kecil” sebagai tempat salat. Mereka terbiasa salat di sana. Mungkin pertimbangannya lebih praktis, tidak usah jauh-jauh ke masjid, toh sama-sama salat berjamaah. Terkait hal ini, saat asesmen lapangan dalam rangka akreditasi prodi, seorang asesor yang kebetulan dari sebuah perguruan tinggi umum, bertanya dengan nada heran “apakah benar di kampus-kampus PTKIN salatnya tidak ke masjid, tapi di ruang-ruang kantor?” Pertanyaan asesor ini menyiratkan dugaan bahwa di perguruan tinggi umum, pegawai dan dosen tidak terbiasa salat di ruang kantor, tapi di masjid kampus. Sebaliknya di kampus-kampus PTKIN, terbiasa salat di ruang-ruang kantor, bukan di masjid.

Jika dugaan tersebut dilanjutkan, berarti kesadaran mereka untuk salat berjamaah di masjid lebih tinggi. Bukankah Nabi bersabda “Salat berjamaah lebih utama 27 derajat daripada salat sendirian” dan “Barangsiapa  bersesuci dari rumahnya, kemudian berjalan menuju rumah-rumah Allah untuk melaksanakan sebagian dari kewajiban agama, maka kedua langkah kakinya [dihitung sebagai kebaikan]; satu langkah menghapus dosa, langkah lainnya mengangkat derajat”.

Betulkah dugaan-dugaan tersebut? Namanya saja dugaan, jelas belum tentu benar. Yang jelas, bersama-sama salat berjamaah di masjid, selain mendapat banyak keutamaan, bisa menjadi media silaturahim antar warga kampus, di tengah-tengah kesibukannya masing-masing [16].

Editor: Achmad Firdausi / Humas