Ada Apa dengan Kurikulum Pendidikan Berbasis Cinta?
- Diposting Oleh Achmad Firdausi
- Senin, 4 Agustus 2025
- Dilihat 399 Kali
Oleh: Dr. Imam Amrusi Jailani, M.Ag.
(Ketua Program Studi Doktor Ilmu Syariah Pascasarjana UIN Madura)
Baru-baru ini dunia pendidikan disentakkan oleh gagasan kurikulum pendidikan berbasis cinta. Kurikulum yang digagas oleh menteri agama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., sebenarnya merupakan pengelementasian dari terutusnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Nabi Muhammad menyampaikan risalah yang berbasis rahmat, cinta, perdamaian, kerukunan, dan saling menghargai di antara sesama. Itulah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad kepada umat manusia di seluruh dunia, bukan hanya untuk umat Islam. Dalam hal ini, risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad menekankan kepada keseimbangan duniawi dan ukhrawi, sehingga antara keduanya berjalan seiring dan seirama.
Platform ini kemudian ditransformasikan oleh Rasulullah kepada para sahabat, dari sahabat diteruskan ke tabi’in dan dari tabi’in ke tabi’it-tabi’in, begitulah seterusnya sampai kepada dunia kita sekarang ini. Ajaran yang disampaikan oleh nabi dan penerusnya dengan menekankan adanya kasih sayang diantara sesama, dan itulah sebenarnya yang menjadi ruh pendidikan.
Semangat itu kemudian diterjemahkan oleh para pemikir dan tokoh pendidikan yang merespon semangat itu, seperti Rabindranat Tagore menyerukan agar pendidikan itu bisa menyeimbangkan antara aspek kognitif dan emosional, sehingga perkembangan anak didik tidak hanya mengejar aspek kognitif yang dijejali oleh setumpuk teori-teori dan aplikasi-aplikasi serta rumus-rumus yang harus dihafalkan di dalam memorinya. Dengan kesibukan semacam itu aspek emosional terkadang terabaikan, sehingga mereka hanya menjadi pemikir yang tidak membumi di dalam komunitasnya, seakan-akan tercerabut dan terasing dari kebersamaan di antara sesama.
Lebih dari itu pendidikan yang sudah dikembangkan oleh para pemikir dan tokoh pendidikan banyak menyuarakan agar pendidikan itu harus menyasar aspek intelegensia, emosional, dan spiritual, agar pertumbuhan mereka yang menekuni dunia pendidikan akan mengalami keseimbangan antara intelektual, psikis dan skillnya. Sudah barang tentu jika pendidikan sudah dikemas seperti itu, maka balutan cinta kasih sayang akan selalu menyelimuti mereka. Suasana cinta kasih harus selalu dipertahankan agar perkembangan dunia pendidikan terus berkembang dan merona dengan semerbak cinta kasih yang selalu ditebarkan oleh senyum-senyum manis dan sikap yang selalu baik di antara mereka. Kalau sudah demikian, maka kehidupan ini akan asri.
Keserasian pendidikan dengan cinta kasih sebenarnya bukan hal yang baru dalam dunia pendidikan, terutama pendidikan Islam. Akan tetapi, agar ikatan di antara keduanya lebih erat lagi, maka harus dibungkus dengan kurikulum yang integratif sehingga pendidikan dan cinta kasih membumi dalam kehidupan ini serta semua insan bisa merasakan buahnya.
KPBC (Kurikulum Pendidikan Berbasis Cinta) bisa saja menjadi perpanjangan dari pendidikan berbasis moderasi beragama. Model pendidikan ini digagas karena adanya keresahan yang berimbas pada kakhawatiran terhadap situasi dan kondisi dinia pendidikan di era kontemporer ini. Dunia pendidikan sekarang hanya menekankan aspek kognisi yang mengakibatkan peserta didik bahkan para pendidik sudah kejangkitan sifat individualis. Para peserta didik hanya mengejar penguasaan materi pelajaran dan menumpuk prestasi, sehingga mereka agak terasing dari pergaulan. Sementara para pendidik sibuk mengejar karir dan pangkat serta jabatan, sehingga lebih banyak memberikan tugas dari pada memberikan materi. Hubungan antara pendidik dan peserta didik menjadi hambar, hampir tidak membekas sama sekali.
Dari moderasi beragama menuju kurikulum pendidikan berbasis cinta. Suatu ikhtiar yang patut diacungi jempol. Tentunya semua pihak berharap langkah ini akan mampu memoles keadaan jauh lebih baik, dan bukan sekedar bongkar pasang kurikulum. Semoga Allah selalu meridhai langkah kita dan para pemimpin kita, amin.
Editor: Achmad Firdausi